Indonesia adalah bangsa
yang besar, yang kaya akan sumber daya alam nya, hingga budaya dan adat
istiadat nya yang bermacam-macam. Indonesia merupakan Negara yang
terdiri dari berbagai Suku Bangsa, dan diantara suku bangsa yang ada di
indonesia adalah Suku Sunda.
Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa bagian barat dengan istilah Tatar Pasundan / parahiyangan yang mencakup wilayah administrrasi wilayah Jawa Barat dan Banten. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia. Mayoritas orang Sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama Kristen, Hindu, dan Sunda Wiwitan / Jati Sunda ( agama sunda buhun ). Agama Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat Baduy di Lebak Banten yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.
Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa bagian barat dengan istilah Tatar Pasundan / parahiyangan yang mencakup wilayah administrrasi wilayah Jawa Barat dan Banten. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia. Mayoritas orang Sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama Kristen, Hindu, dan Sunda Wiwitan / Jati Sunda ( agama sunda buhun ). Agama Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat Baduy di Lebak Banten yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.
Jati diri yang mempersatukan
orang Sunda adalah Bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki
sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang. Orang Portugis mencatat
dalam Suma Oriental bahwa orang sunda bersifat jujur dan pemberani.
Orang sunda juga adalah yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik
secara sejajar dengan bangsa lain. Sang Hyang Surawisesa atau Raja
Samian adalah raja pertama di Nusantara yang melakukan hubungan
diplomatik dengan Bangsa lain pada abad ke 15 dengan orang Portugis
di Malaka. Hasil dari diplomasinya dituangkan dalam Prasasti Perjanjian
Sunda Portugal.
Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal atau Padrão Sunda Kelapa adalah
sebuah Prasasti berbentuk tugu batu (padrao) yang ditemukan pada tahun
1918 di Batavia Hindia-Belanda. Prasasti ini menandai perjanjian
Kerajaan sunda-Portugis yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari
Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk "Raja
Samian" (maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang
menjadi pemimpin utusan raja Sunda). Padrão ini didirikan di atas tanah
yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi
orang Portugis.
Prasasti ini ditemukan kembali
ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di sudut
Prinsenstraat (sekarang Jalan Cengkeh) dan Groenestraat (Jalan Kali
Besar Timur I),sekarang termasuk wilayah Jkarta Barat. Padrao tersebut
sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia smentara
sebuah replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Nasional
Sejarah Awal Sunda
Menurut Rouffaer (1905: 16)
menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari akar kata sund atau kata suddha
dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang,
berkilau, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa
Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan
pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan,
pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990:
569-570; Winter, 1928: 219). Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos
atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter
Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar),singer (mawas diri), dan pinter (cerdas).
Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa
bagian barat sejak zaman kerajaan KerajaanSalakanagara,Kerajaan
Tarumanagara, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Pajajaran hingga sekarang .
Nama Sunda mulai digunakan oleh
raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut ibukota Kerajaan
Tarumanagara yang didirikannya. Untuk mengembalikan pamor Tarumanagara
yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa Tarumanagara
yang ke-13, mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Kemudian
peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan
negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin
menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan raja Galuh.
Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu
Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai
batasnya.
Pandangan Hidup
Selain agama yang dijadikan
pandangan hidup, orang Sunda juga mempunyai pandangan hidup yang
diwariskan oleh nenek moyangnya. Pandangan hidup tersebut tidak
bertentangan dengan agama yang dianutnya karena secara tersurat dan
tersirat dikandung juga dalam ajaran agamanya, khususnya ajaran agama
Islam. Pandangan hidup orang Sunda yang diwariskan dari nenek moyangnya
dapat diamati pada ungkapan tradisional, juga dari naskah kuno.
Hubungan antara sesama manusia
Hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat Sunda pada dasarnya harus dilandasi oleh sikap “silih asih, silih asah, dan silih asuh”,
artinya harus saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan
saling mengasuh sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang
diwarnai keakraban, kerukunan, kedamaian, ketentraman, dan kekeluargaan,
seperti tampak pada ungkapan-ungkapan berikut ini:
- Kawas gula jeung peueut yang artinya hidup harus rukun saling menyayangi, tidak pernah berselisih.
- Ulah marebutkeun balung tanpa eusi yang artinya jangan memperebutkan perkara yang tidak ada gunanya.
- Ulah ngaliarkeun taleus ateul yang artinya jangan menyebarkan perkara yang dapat menimbulkan keburukan atau keresahan.
- Ulah nyolok mata buncelik yang artinya jangan berbuat sesuatu di hadapan orang lain dengan maksud mempermalukan.
- Buruk-buruk papan jati yang artinya berapapun besar kesalahan saudara atau sahabat, mereka tetap saudara kita, orang tua tentu dapat mengampuninya.
Hubungan antara manusia dengan negara dan bangsanya
Hubungan antara manusia dengan
negara dan bangsanya, menurut pandangan hidup orang Sunda, hendaknya
didasari oleh sikap yang menjunjung tinggi hukum, membela negara, dan
menyuarakan hati nurani rakyat. Pada dasarnya, tujuan hukum yang berupa
hasrat untuk mengembalikan rasa keadilan, yang bersifat menjaga keadaan,
dan menjaga solidaritas sosial dalam masyarakat. Masalah ini dalam
masyarakat Sunda terpancar dalam ungkapan-ungkapan:
- Kudu nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka balarea (harus menjunjung tinggi hukum, berpijak kepada ketentuan negara, dan bermupakat kepada kehendak rakyat.
- Bengkung ngariung bongkok ngaronyok (bersama-sama dalam suka dan duka).
- Nyuhunkeun bobot pangayon timbang taraju (memohon pertimbangan dan kebijaksanaan yang seadil-adilnya, memohon ampun)
Bahasa
Dalam percakapan sehari-hari,
etnis Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Namun kini telah banyak
masyarakat Sunda terutama yang tinggal di perkotaan tidak lagi
menggunakan bahasa Sunda dalam bertutur kata. Seperti yang terjadi di
pusat-pusat keramaian kota Bandung dan Bogor, dimana banyak masyarakat
yang tidak lagi menggunakan bahasa Sunda.
Ada beberapa Dialek dalam
bahasa Sunda, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa
Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya
membedakan enam dialek berbeda. Dialek-dialek ini adalah:
- Dialek Barat (Bahasa Banten)
- Dialek Utara
- Dialek Selatan (Priangan)
- Dialek Tengah Timur
- Dialek Timur Laut (Bahasa Sunda Cirebon)
- Dialek Tenggara
Dialek Barat dipertuturkan di
daerah Banten dan Lampung. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara
termasuk kota Bogor dan beberapa daerah Pantura. Lalu dialek Selatan
adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya.
Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di Kabupaten Majalengka
dan Indramayu. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Cirebon dan
Kuningan, juga di beberapa kecamatan di Kabupaten Brebes dan Tegal, Jawa
Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis, juga
di beberapa kecamatan di Kabupaten Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah.
Kesenian
Seni tari
Seni tari utama dalam Suku Sunda adalah tari Jaipongan, tari merak, dan tari topeng.
Tanah Sunda (Priangan) dikenal
memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu
seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong
sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan
modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu
Ketuk Tilu. Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas
pula, yaitu degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik
seperti gendang, gong, saron, kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan
'Orkestra' dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini
adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar
paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan
oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik,
Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau
pesta pernikahan.
Wayang Golek
Tanah Sunda terkenal dengan
kesenian Wayang Golek-nya. Wayang Golek adalah pementasan sandiwara
boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara
merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki
keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong,
pementasan Wayang Golek diiringi musik Degung lengkap dengan Sindennya.
Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara hiburan, pesta pernikahan
atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun unik, yaitu pada malam hari
(biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga
pukul 04.00 pagi. Cerita yang dibawakan berkisar pada pergulatan antara
kebaikan dan kejahatan (tokoh baik melawan tokoh jahat). Cerita wayang
yang populer saat ini banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India,
seperti Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita
mengambil nama-nama dari tanah India.Dalam Wayang Golek, ada ‘tokoh’
yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan
Purnakawan, seperti Dawala dan Cepot. Tokoh-tokoh ini digemari karena
mereka merupakan tokoh yang selalu memerankan peran lucu (seperti
pelawak) dan sering memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang
pintar akan memainkan tokoh tersebut dengan variasi yang sangat menarik.
Seni musik
Selain seni tari, tanah Sunda
juga terkenal dengan seni suaranya. Dalam memainkan Degung biasanya ada
seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan
yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden.
Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden
karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan
dipelajari.Dibawah ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda :
Bubuy Bulan Es Lilin Manuk Dadali Tokecang Warung Pojok
1. Calung
Calung adalah alat musik Sunda
yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang
dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan
mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang
tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la).
Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu
hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna
putih).
2. Angklung
Angklung adalah sebuah alat atau
waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh
Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya
angklung masih sebatas kepentingan kesenian lokal.
Rumah Adat
Secara tradisional rumah orang
Sunda berbentuk panggung dengan ketinggian 0,5 m - 0,8 m atau 1 meter di
atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya, tinggi
kolong ada yang mencapai 1,8 meter. Kolong ini sendiri umumnya digunakan
untuk tempat mengikat binatang-binatang peliharaan seperti sapi, kuda,
atau untuk menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, garu
dan sebagainya. Untuk naik ke rumah disediakan tangga yang disebut
Golodog yang terbuat dari kayu atau bambu, yang biasanya terdiri tidak
lebih dari tiga anak tangga. Golodog berfungsi juga untuk membersihkan
kaki sebelum naik ke dalam rumah.
Rumah adat Sunda sebenarnya
memiliki nama yang berbeda-beda bergantung pada bentuk atap dan pintu
rumahnya. Secara tradisional ada atap yang bernama suhunan Jolopong,
Tagong Anjing, Badak Heuay, Perahu Kemureb, Jubleg Nangkub, Capit
Gunting, dan Buka Pongpok. Dari kesemuanya itu, Jolopong adalah bentuk
yang paling sederhana dan banyak dijumpai di daerah-daerah cagar budaya
atau di desa-desa.
Jolopong memiliki dua bidang atap
yang dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah. Batang
suhunan sama panjangnya dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap
yang sebelah menyebelah, sedangkan lainnya lebih pendek dibanding dengan
suhunan dan memotong tegak lurus di kedua ujung suhunan itu.
Interior yang dimiliki Jolopong
pun sangat efisien. Ruang Jolopong terdiri atas ruang depan yang disebut
emper atau tepas; ruangan tengah disebut tengah imah atau patengahan;
ruangan samping disebut pangkeng (kamar); dan ruangan belakang yang
terdiri atas dapur yang disebut pawon dan tempat menyimpan beras yang
disebut padaringan. Ruangan yang disebut emper berfungsi untuk menerima
tamu. Dulu, ruangan ini dibiarkan kosong tanpa perkakas atau perabot
rumah tangga seperti meja, kursi, ataupun bale-bale tempat duduk. Jika
tamu datang barulah yang empunya rumah menggelarkan tikar untuk duduk
tamu. Seiring waktu, kini sudah disediakan meja dan kursi bahkan
peralatan lainnya. Ruang balandongan berfungsi untuk menambah kesejukan
bagi penghuni rumah. Untuk ruang tidur, digunakan Pangkeng. Ruangan
sejenis pangkeng ialah jobong atau gudang yang digunakan untuk menyimpan
barang atau alat-alat rumah tangga. Ruangan tengah digunakan sebagai
tempat berkumpulnya keluarga dan sering digunakan untuk melaksanakan
upacara atau selamatan dan ruang belakang (dapur) digunakan untuk
memasak.
Ditilik dari segi filosofis,
rumah tradisional milik masyarakat Jawa Barat ini memiliki pemahaman
yang sangat mengagumkan. Secara umum, nama suhunan rumah adat orang
Sunda ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya. Hampir di setiap
bangunan rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan paku besi maupun alat
bangunan modern lainnya. Untuk penguat antar tiang digunakan paseuk
(dari bambu) atau tali dari ijuk ataupun sabut kelapa, sedangkan bagian
atap sebagai penutup rumah menggunakan ijuk, daun kelapa, atau daun
rumia, karena rumah adat Sunda sangat jarang menggunakan genting. Hal
menarik lainnya adalah mengenai material yang digunakan oleh rumah itu
sendiri. Pemakaian material bilik yang tipis dan lantai panggung dari
papan kayu atau palupuh tentu tidak mungkin dipakai untuk tempat
perlindungan di komunitas dengan peradaban barbar. Rumah untuk komunitas
orang Sunda bukan sebagai benteng perlindungan dari musuh manusia, tapi
semata dari alam berupa hujan, angin, terik matahari dan binatang.
Sistem Kekerabatan
Sistem keluarga dalam suku Sunda
bersifat bilateral, garis keturunan ditarik dari pihak bapak dan ibu.
Dalam keluarga Sunda, bapak yang bertindak sebagai kepala keluarga.
Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat
mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda.
Dalam suku Sunda dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah
untuk menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara
yang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu
(cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg,
kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang berhubungan tidak
langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak
saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang
berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan
anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya. Dalam bahasa Sunda
dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yang
maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam
bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan.
Mayoritas masyarakat Sunda
berprofesi sebagai petani, dan berladang, ini disebabkan tanah Sunda
yang subur. Sampai abad ke-19, banyak dari masyarakat Sunda yang
berladang secara berpindah-pindah.
Selain bertani, masyarakat Sunda
seringkali memilih untuk menjadi pengusaha dan pedagang sebagai mata
pencariannya, meskipun kebanyakan berupa wirausaha kecil-kecilan yang
sederhana, seperti menjadi penjaja makanan keliling, membuka warung atau
rumah makan, membuka toko barang kelontong dan kebutuhan sehari-hari,
atau membuka usaha cukur rambut, di daerah perkotaan ada pula yang
membuka usaha percetakan, distro, cafe, rental mobil dan jual beli
kendaraan bekas. Profesi pedagang keliling banyak pula dilakoni oleh
masyarakat Sunda, terutama asal Tasikmalaya dan Garut, Chairul Tanjung
Dan Edy Kusnadi Sariaatmadja merupakan contoh-contoh pengusaha berdarah
Sunda yang berhasil. Chairul Tanjung dan Eddy Kusnadi Sariaatmadja
bahkan masuk ke dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia yang dirilis
majalah Forbes pada tanggal 29 November 2012.
Profesi lainnya yang banyak
dilakoni oleh orang Sunda adalah sebagai Pegawai Negri, penyanyi,
seniman, dokter, diplomat dan pengusaha.
Sumber :
WIKIPEDIA
Sumber :
WIKIPEDIA
Meunang Tips Menarik Anu Unggal Poé!
- Meunang tip sareng trik anu anjeun henteu kantos terang
- Janten jalma anu munggaran terang kana hal anyar dina dunya téknologi
- Kéngingkeun Ebook Gratis: Kumaha Meunang 200 Juta / sasih ti AdSense
0 Response to "Suku Sunda"
Post a Comment
Catetan kanggo Nu Maca